Thursday, 16 November 2017

ASMAUL HUSNA



Asmaul Husna (99 Nama Allah)

Nas-aluka [ perlahan ]
Yaa Man Huwallahulladzii Laa Ilaaha Illaahu
Awarrohmaanur Rohim
Almalikul Qudduusus Salaamul Mu’minul Muhaiminul ‘Aziizul Jabbaar
Almutakabbirul Khooliqulbaariul Mushowirul Ghoffar
Walqohharul Wahaabur Rozzaaqul Fattaahul ‘Aliim
Alqoobidhul Baasithul Khoofidhur Alroofi’ul Mu’izzul Mudhillus Samii’ul Bashiirul Hakamul’adl
Allathiiful Khobiir
Alhaliimul ‘Adhim
Alghofurus Syakuur
Al’aliyul Kabiirul Hafiidhul Muqiit
Alhasiibul Jaliil Al Kariimur Roqiibul Mujiibul Waa Si’ul Hakiimul Waduudul Majiidul Baa’itsus Syahid
Alhaqqulwakiil
Alqowiyul Matiin
Alwaliyul Hamiid
Almuhshil Mubdiul Mu’iid
Almuhyil Mumiitul Hayyul Qoyyum
Alwaajidul Maajidul Waahidus Shomadul Qoodirul Muqtadirul Muqoddimul Muakh Khirul Awwalul Akhiir
Addhoohirul Baatinul Waalil Muta’alil Bar Ruttawwaaabul Muntaqimul ‘Afuwwur Roufum Maalikul Mulki Dzul Jalaali Wal Ikroom
Almuqsitul Al Jaami’ul Ghoniyul Mughnil Maani’ud Dhoor Runnaafi’un Nuurul Haadii Badii’ul Baaqii
Alwaaritsur rosyiidus Shobuurulladzi ladza kamits lihi Syaiun Wawas Samii’ul Bashiir
Alloohumma Solli Afdhollas Sholati’alaa As’adi MAkhluuqoo Tika Sayyidinaa Muhammadiwa’alaa alihii
Washohbihii wasallim ‘Adada Ma’luu Maatika Wamidaa Dzakalimaa Tika Kullamaa
Dzakaro Kad Dzaakiruuna Waghofala ‘An Dzikrihil Ghoofiluun. 


Daftar Asmaul Husna dan Artinya

Ke-99 Asmaul Husna atau Nama-Nama yang Baik itu berserta pengertiannya adalah sebagai berikut:

No.NamaArabIndonesia
AllahاللهAllah
1Ar RahmanالرحمنYang Maha Pengasih
2Ar RahiimالرحيمYang Maha Penyayang
3Al MalikالملكYang Maha Merajai/Memerintah
4Al QuddusالقدوسYang Maha Suci
5As SalaamالسلامYang Maha Memberi Kesejahteraan
6Al Mu`minالمؤمنYang Maha Memberi Keamanan
7Al MuhaiminالمهيمنYang Maha Pemelihara
8Al `AziizالعزيزYang Maha Perkasa
9Al JabbarالجبارYang Memiliki Mutlak Kegagahan
10Al MutakabbirالمتكبرYang Maha Megah, Yang Memiliki Kebesaran
11Al KhaliqالخالقYang Maha Pencipta
12Al Baari`البارئYang Maha Melepaskan (Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan)
13Al MushawwirالمصورYang Maha Membentuk Rupa (makhluk-Nya)
14Al GhaffaarالغفارYang Maha Pengampun
15Al QahhaarالقهارYang Maha Memaksa
16Al WahhaabالوهابYang Maha Pemberi Karunia
17Ar RazzaaqالرزاقYang Maha Pemberi Rezeki
18Al FattaahالفتاحYang Maha Pembuka Rahmat
19Al `AliimالعليمYang Maha Mengetahui (Memiliki Ilmu)
20Al QaabidhالقابضYang Maha Menyempitkan (makhluk-Nya)
21Al BaasithالباسطYang Maha Melapangkan (makhluk-Nya)
22Al KhaafidhالخافضYang Maha Merendahkan (makhluk-Nya)
23Ar Raafi`الرافعYang Maha Meninggikan (makhluk-Nya)
24Al Mu`izzالمعزYang Maha Memuliakan (makhluk-Nya)
25Al MudzilالمذلYang Maha Menghinakan (makhluk-Nya)
26Al Samii`السميعYang Maha Mendengar
27Al BashiirالبصيرYang Maha Melihat
28Al HakamالحكمYang Maha Menetapkan
29Al `AdlالعدلYang Maha Adil
30Al LathiifاللطيفYang Maha Lembut
31Al KhabiirالخبيرYang Maha Mengenal
32Al HaliimالحليمYang Maha Penyantun
33Al `AzhiimالعظيمYang Maha Agung
34Al GhafuurالغفورYang Maha Pengampun
35As SyakuurالشكورYang Maha Pembalas Budi (Menghargai)
36Al `AliyالعلىYang Maha Tinggi
37Al KabiirالكبيرYang Maha Besar
38Al HafizhالحفيظYang Maha Memelihara
39Al MuqiitالمقيتYang Maha Pemberi Kecukupan
40Al HasiibالحسيبYang Maha Membuat Perhitungan
41Al JaliilالجليلYang Maha Mulia
42Al KariimالكريمYang Maha Mulia
43Ar RaqiibالرقيبYang Maha Mengawasi
44Al MujiibالمجيبYang Maha Mengabulkan
45Al Waasi`الواسعYang Maha Luas
46Al HakiimالحكيمYang Maha Maka Bijaksana
47Al WaduudالودودYang Maha Mengasihi
48Al MajiidالمجيدYang Maha Mulia
49Al Baa`itsالباعثYang Maha Membangkitkan
50As SyahiidالشهيدYang Maha Menyaksikan
51Al HaqqالحقYang Maha Benar
52Al WakiilالوكيلYang Maha Memelihara
53Al QawiyyuالقوىYang Maha Kuat
54Al MatiinالمتينYang Maha Kokoh
55Al WaliyyالولىYang Maha Melindungi
56Al HamiidالحميدYang Maha Terpuji
57Al MuhshiiالمحصىYang Maha Mengkalkulasi
58Al Mubdi`المبدئYang Maha Memulai
59Al Mu`iidالمعيدYang Maha Mengembalikan Kehidupan
60Al MuhyiiالمحيىYang Maha Menghidupkan
61Al MumiituالمميتYang Maha Mematikan
62Al HayyuالحيYang Maha Hidup
63Al QayyuumالقيومYang Maha Mandiri
64Al WaajidالواجدYang Maha Penemu
65Al MaajidالماجدYang Maha Mulia
66Al WahiidالواحدYang Maha Tunggal
67Al AhadالاحدYang Maha Esa
68As ShamadالصمدYang Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta
69Al QaadirالقادرYang Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan
70Al MuqtadirالمقتدرYang Maha Berkuasa
71Al MuqaddimالمقدمYang Maha Mendahulukan
72Al Mu`akkhirالمؤخرYang Maha Mengakhirkan
73Al AwwalالأولYang Maha Awal
74Al AakhirالأخرYang Maha Akhir
75Az ZhaahirالظاهرYang Maha Nyata
76Al BaathinالباطنYang Maha Ghaib
77Al WaaliالواليYang Maha Memerintah
78Al Muta`aaliiالمتعاليYang Maha Tinggi
79Al BarriالبرYang Maha Penderma
80At TawwaabالتوابYang Maha Penerima Tobat
81Al MuntaqimالمنتقمYang Maha Pemberi Balasan
82Al AfuwwالعفوYang Maha Pemaaf
83Ar Ra`uufالرؤوفYang Maha Pengasuh
84Malikul Mulkمالك الملكYang Maha Penguasa Kerajaan (Semesta)
85Dzul Jalaali Wal Ikraamذو الجلال و الإكرامYang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan
86Al MuqsithالمقسطYang Maha Pemberi Keadilan
87Al Jamii`الجامعYang Maha Mengumpulkan
88Al GhaniyyالغنىYang Maha Kaya
89Al MughniiالمغنىYang Maha Pemberi Kekayaan
90Al MaaniالمانعYang Maha Mencegah
91Ad DhaarالضارYang Maha Penimpa Kemudharatan
92An Nafii`النافعYang Maha Memberi Manfaat
93An NuurالنورYang Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya)
94Al HaadiiالهادئYang Maha Pemberi Petunjuk
95Al BaadiiالبديعYang Indah Tidak Mempunyai Banding
96Al BaaqiiالباقيYang Maha Kekal
97Al WaaritsالوارثYang Maha Pewaris
98Ar RasyiidالرشيدYang Maha Pandai
99As ShabuurالصبورYang Maha Sabar

Saturday, 11 November 2017

Jejak Sekularisme Turki dan Kisah Sakaratul Maut Kemal Attarturk



ISLAM adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Mengatur urusan individu, masyarakat dan Negara. Jika individu mengatur dirinya dengan Islam (baca taqwa : melaksanakan perintah dan meninggalkan laranganNya) dalam tingkah lakunya maka Islam akan menjadi rahmat pada dirinya. Jika Masyarakat mengatur urusannya dengan Islam maka Islam akan menjadi rahmat pada masyarakat tersebut. Begitupun juga Negara akan menerima rahmat penduduk negerinya jika urusan-urusan Negara tersebut berpanduan pada Islam. Jika tidak? Maka jangan protes kepada Allah.
Sejak Zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, agama Islam tidak bisa dipisahkan dari urusan Negara atau politik (pelayanan terhadap umat). Ada syari’at yang dibebankan kepada individu, misal, shalat, puasa dan ada yang dibebankan kepada Negara, misal ekonomi, pendidikan, keamanan, hukum had dan qishas.
Banyak pendapat orientalis yang memusuhi Islam, tapi mereka mengakui bahwa Islam tidak bisa dipisahkan dari negara. Hal ini cukup menjawab pendapat orang-orang yang mengatakan bahwa Islam hanya mengatur masalah ruhani antara hamba dan Rabbnya.
Sudah kita ketahui bahwa Daulah Madinah telah tegak di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, kemudian dilanjutkan oleh para Khulafaur Rosyidin kokoh sampai akhirnya pada masa Khilafah Utsmaniyah. Eksistensi khilafah sendiri adalah sesuatu yang paling penting dalam Islam. Hal ini tergambar dalam kesibukan 50 sahabat Muhajirin dan Anshor yang mengutamakan mencari pengganti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam sebagai pemimpin umat di perkampungan Bani Saqifah daripada mengebumikan Rasul terlebih dahulu.
Kekhilafahan dalam Islam mengalami pasang surut antara kejayaan, keemasan dan terkadang kemunduran. Salah satu kekhilafahan yang mempunyai rentang waktu panjang dan kejayaan yang mengagumkan adalah kekhalifahan Utsmaniyah di Turki.
Selama kurang lebih lima abad Ustmany telah menjaga Islam dan kaum Muslimin. Kesuksesan terbesar kekhilafahan Utsmaniyah di antaranya adalah penaklukan Konstantinopel pada tahun 1453.
Hal ini memperkuat status kekhilafahan tersebut sebagai kekuatan besar di Eropa Tenggara dan Mediterania Timur. Hingga kota-kota penting yang sangat terkenal sejak zaman dahulu pun masuk ke dalam wilayah kekhilafahan Utsmaniyah. Pada masa itu, seluruh Eropa takut dan “menggigil” dengan kekhalifahan Utsmaniyah. Raja-raja Eropa berada dalam jaminan keselamatan yang diberikan dari Khalifah Utsmaniyah.
Semua hal tersebut membuat Raja-raja Eropa menaruh dendam juga niat yang membara untuk menghancurkan kekhalifahan Utsmaniyah. Namun mereka masih menunggu kesempatan dan waktu yang tepat untuk menggulingkan kekhalifahan Utsmaniyah tersebut, sehingga mereka harus membuat rencana yang benar-benar matang.
Disebutkan bahwa para filosofi, pemikir, raja, panglima perang, pastur bangsa Eropa ikut terlibat dalam rencana kejam ini. Tak kurang dari perdana menteri Romawi Dubqara menulis buku yang berjudul “Seratus Kiat untuk Menghancurkan Turki”.
Problem Internal dan Eksternal
Kekhalifahan Utsmaniyah berakhir pada 1909 H, dan kemudian benar-benar dihapuskan pada 3 Maret 1924 H. Setidaknya ada tiga sebab yang melingkupi keruntuhan kekhilafahan kebanggaan kaum muslimin ini, antara lain :
Pertama; Kondisi Pemerintahan yang lemah dan kemorosotan akhlak
Penurunan drastis ketakwaan individu menyebabkan akhlak umat mulai merosot. Turki mulai mengalami kemunduran setelah terjangkit penyakit yang menyerang bangsa-bangsa besar sebelumnya, yaitu: cinta dunia dan bermewah-mewahan, sikap iri hati, benci membenci, dan penindasan.
Pejabat pemerintahan terpuruk karena korupsi. Para wali dan pegawai tinggi memanfaatkan jabatannya untuk menumpuk harta. Begitu pula rakyat yang terus menerus tenggelam dalam kemewahan dan kesenangan hidup, meninggalkan pemahaman dan semangat jihad. Fanatik madzhab merebak di mana-mana. Kemudian mencukupkan Imam Madzhab dan timbul opini tertutupnya pintu ijtihad. Sehingga umat kebingungan dan berada dalam keruwetan pada saat menghadapi persoalan-persoalan baru yang terjadi pada umat Islam.
Kedua; serangan militer dari Eropa
Sebelum terjadinya Perang Dunia I yang menghancurkan Turki, upaya penyerangan dari Raja Eropa ke Turki sebenarnya sudah dimulai pada akhir abad 16, di mana saat itu keluar pernyataan yang menyatakan bahwa; ”Sri Paus V, Raja Prancis Philip dan republik Bunduqiyah sepakat untuk mengumumkan perang ofensif dan defensif terhadap orang-orang Turki untuk merebut kembali wilayah-wilayah yang dikuasai Turki seperti Tunisia, Al-Jazair dan Taroblush.”
Sejak itulah Turki melemah karena banyaknya pertempuran yang terjadi antara mereka dan negara-negara Eropa. Puncak dari semua itu adalah keterlibatan Turki dalam Perang Dunia I pada 2 Agustus 1914 atas rencana busuk dari Mustapa Kamal, dan mengakibatkan Turki kehilangan segala-galanya, di mana militer penjajah akhirnya memasuki Istambul.
Ketiga; gerakan oposisi sekuler dan nasionalis
Selain serangan konspirasi dari luar, Utsmaniyah juga menghadapi tantangan internal berupa Isu Nasionalisme Arab. Orang Arab yang merasa lebih mulia daripada orang Turki karena Islam berasal dari Arab sehingga mereka enggan dipimpin seorang Khalifah yang berasal dari Turki. Hal ini memicu terjadinya separatisme yang semakin menggerogoti kekuatan dan wilayah Utsmani.
Utsmani juga mendapat perlawanan oposisi dari organisasi sekuler dan nasionalis yang sempit, seperti Organisasi Wanita Turki dan Organisasi Persatuan dan Kemajuan yang digawangi oleh Mustafa Kemal.
Dalam perjuangannya, mereka banyak bekerja sama dengan negara Eropa untuk mewujudkan keinginan mereka menghilangkan kekhalifahan. Puncaknya apa yang terjadi pada tahun 1909 H, dengan dalih gerakan mogok massal, organisasi Persatuan dan Kesatuan berhasil memasuki Istambul, menyingkirkan Khalifah Abdul Hamid II dan melucutinya dari pemerintahan dan keagamaan dan tinggal menjadi simbol belaka. Tidak cukup itu, pada 3 Maret 1924, badan legislatif mengangkat Mustafa Kamal sebagai presiden Turki dan membubarkan khilafah Islamiyah.
Mustafa Kemal Attaturk bertindak radikal guna menghancurkan perdaban Islam. Mustafa, sebagai Presiden Republik Turki yang sekuler, bertindak diktator dalam menjalankan pemerintahan. Ia menetapkan ideologi Negara menganut paham sekularisme. Atas dasar ideologi Negara ini, dia mengumumkan akan mengambil langkah-langkah kebijaksanaan untuk mencapai cita-citanya demi kepentingan Negara Turki Sekuler.
Di antaranya ia mengambil langkah; menghapus syariah Islam dan tidak ada lagi jabatan kekhalifahan, mengganti hukum-hukum Islam dengan hukum-hukum Italia, Jerman, dan Swiss, menutup beberapa masjid dan madrasah, mengganti agama Negara dengan sekularisme, mengubah azan ke dalam bahasa Turki, melarang pendidikan agama di sekolah umum, melarang kerudung bagi kaum wanita dan pendidikan terpisah, mengganti naskah-naskah bahasa Arab dengan bahasa Roma, pengenalan pada kode hukum Barat, pakaian, kalender, serta Alfabet, mengganti seluruh huruf Arab dengan huruf Latin.
Akibat ulah Mustafa Kamal, pemaksaan ini akhirnya menjadikan Turki sebagai Republik Sekuler yang sangat anti terhadap dakwah Islam. Ciri Islam di Turki hampir – hampir hilang sama, sehingga kaum Muslimin kesulitan menemukan jejak peradaban Islam di tanah Turki.
Sesaat berkuasa, Kemal Attaturk pernah menggantung tiga puluh ulama. Ia mengatakan, “Ketahuilah, saya dapat membuat negara Turki menjadi negara demokrasi bila saya dapat hidup lima belas tahun lagi. Tetapi jika saya mati sekarang, itu akan memerlukan waktu tiga generasi,” begitulah Kamal Attaturk, selalu berlaku angkuh di atas tindakan kekejaman dan anti agama, seorang yang dikenal sebagai pencetus ‘sekulerisme Turki’ sekaligus penghancur kekhalifahan Turki dan agama Islam.
Balasan atas Kedzaliman
Sekiranya Kamal Attaturk ini lahir di zaman adanya Rasul pada saat ketika wahyu masih turun, bisa jadi namanya akan diabadikan seperti Fir’aun, Namrud dan Abu Lahab. Cara kematian yang Allah telah datangkan kepada mereka, orang-orang yang dzalim itu teramat tragis sekali. Kematian merekapun teramat unik.
Namrud, mati karena sakit kepala akibat dimasuki oleh seekor nyamuk melalui telinganya. Setiap kali ia menjerit, dokter pribadinya memerintahkan dipukul kepalanya untuk mengurangi kesakitannya. Setelah lama bergelut dengan sakratul maut, akhirnya dia mati dalam keadaan tersiksa dan terhina. Begitu juga dengan Firaun yang mati lemas di dalam laut.
Nasib serupa dialami Mustafa Kamal Attaturk juga menerima pembalasan yang setimpal dari Allah. Menurut beberapa buku sejarah, kematian Kemal dikarenakan akibat over dosis minuman keras. Ditambah lagi dengan berbagai penyakit seperti penyakit kelamin, malaria , sakit ginjal dan lever. Dia meninggal dunia pada 10 November 1938, kulit di tubuh badannya rusak dengan cepat dan díganggu pula oleh penyakit gatal-gatal.
Dokter sudah memberi bermacam-macam salep untuk diusap pada kakinya yang sudah banyak luka-luka karena tergaruk oleh kukunya. Walaupun begitu dia masih sangat angkuh. Di akhir-akhir hayatnya yaitu ketika menderita sakratul maut.
Anehnya dia takut sekali berada di istananya dan tubuhnya merasa panas maka ia ingin dibawa ke tengah laut dengan kapalnya. Bila penyakitnya bertambah, dia tidak dapat menahan diri daripadanya kecuali menjerit. Jeritan itu semakin kuat (hingga kedengaran di sekeliling istana). Dia berteriak kesakitan dalam sakratul mautnya dengan penuh siksa di tengah-tengah laut.
Dr. Abdullah ‘Azzam dalam buku ‘Al Manaratul Mafqudah’, menjelaskan detik-detik menjelang ajal sang hina Mustafa Kemal Attaturk. Menurutnya, sebuah cairan berkumpul di perutnya secara kronis. Ingatannya melemah, darah mulai mengalir dari hidungnya tanpa henti. Dia juga terserang penyakit kelamin (GO). Untuk mengeluarkan cairan yang berkumpul pada bagian dalam perutnya (ascites), dokter mencoblos perutnya dengan jarum. Perutnya membusung dan kedua kakinya bengkak. Mukanya mengecil. Darahnya berkurang sehingga Mustafa pucat seputih tulang.
Dalam Kitab ”Al-Jaza Min Jinsil Amal” Karangan Syeikh Dr. Sayyid Husien Al-Affani disebutkan, walaupun Attaturk dikelilingi para dokter, namun penyakit kangker hatinya baru di ketahui pada tahun 1938 padahal dia telah merasakan pedihnya penyakit tersebut sejak 1936.
Pada Kamis tanggal 10 oktober 1938, Kamal Attatruk terlempar ke ‘sampah sejarah’ setelah ia mengalami sakaratul maut sebulan lamanya yang tidak ada satupun dari pembantu dan para dokternya yang berani mendekati dia ketika itu.
Setelah 9 hari, barulah mayatnya disembahyangkan, itupun setelah didesak oleh seorang adik perempuannya. Kemudian mayatnya telah dipindahkan ke Ankara dan dipertontonkan di hadapan Grand National Assembly Building. Pada 21 November, ia dipindahkan pula ke sebuah tempat sementara di Museum Etnografi di Ankara yang berdekatan gedung parlemen.
Lima belas tahun kemudian yaitu pada tahun 1953, barulah mayatnya diletakkan di sebuah bukit di Ankara.*/Herman Anas, penulis alumnus Pondok Pesantren Annuqayah Sumenep Madura